Hanya bisa.....

ah.. pagi yang indah..
saat mentari pagi cerah menyapa embun dan rerumputan..
sukmaku ikut tersenyum..
aku tak bisa pungkiri, aku tak bisa sembunyikan..
rasa bahagia yang membuncah dalam dadaku..

mungkin kalau semua bagian tubuhku punya bibir…
semuanya akan tersenyum ..


aku bahagia


aku..
ingin bersandar padanya..
selamanya bisa meletakkan kepalaku di pundaknya..
ingin selalu bisa memeluknya erat..
ingin selalu dapat menjadi tempat keluh kesahnya..
Mendengarkan segala pemikiran dan angan-angannya..
ingin jadi seseorang yang bisa mendampinginya… saat lelah mendera..
Ingin menjadi seseorang yang dipeluknya.. saat ia terbalut amarahnya..
ingin melihat senyumannya… menghiasi hari2ku..
selalu ingin.. tanganku terlihat mungil di genggam tangannya..

tapi…
lalu ada rasa dingin yang menyergap seluruh tubuhku…
aku teringat lukaku..
sayatan-sayatan pedih itu..
menimbulkan bekas yang mendalam..

salahkah aku bila merasa takut?

aku takut..
aku takut suatu saat aku kan jatuh lagi..
dan tak kan mampu berdiri..

aku takut...

Selasa, Maret 31, 2009 at 18.03 , 1 Comment

Antara Keinginan dan Kebutuhan

Ketika keinginan tak terpenuhi
Haruskah kita menangisi diri sendiri?
Ketika kebutuhan yang terpenuhi
Apakah kita tetap memendam keinginan?

Saat hati berucap kata, namun tak bisa
Saat hati ingin bicara, namun terhalang oleh logika
Haruskah kita meredam keinginan?
Membiarkan kebutuhan yang berujar
Dan biarkan semua berjalan apa adanya

Atau haruskah kita mengejar keinginan..
Dan mengabaikan kebutuhan..
Tak peduli hati tersakiti,
kebutuhan tak terpenuhi
demi untuk sesuatu yang belum pasti?

Ahh..
Manusia memang tak pernah puas…

(that includes you and me :D)

Kamis, Maret 12, 2009 at 23.02 , 2 Comments

Forms of attentions

Kadang, yang namanya manusia selalu haus akan perhatian.. apalagi yang namanya wanita.. beuuuuhh, selalu ingin diperhatikan.

Saya wanita (yeah, last time i chececked, I am. hehhe)dan saya merasa, bahwa kebutuhan primer saya udah jauh lebih rumit dari orang2 dulu.
Jamn dulu, kebutuhan primer adalah: Sandang, Pangan dan Papan
Kebutuhan Primer sayah : Sandang, Pangan, Papan, Hp, Tv, Internet dannn Gombalan.

gyahahhha.. bodoh sih.. tapi akhir2 ini emang lagi pengen dijadiin 'objek gombalan' para cowok..
Salah satu nya ya ini..pengen diperhatiin..dimanja.. di buat merasa klo saya adalah 'satu2nya punya dya..'

tapi mood2-an loh..
Kadang.. saya cuma pengen dipandangi,dan dikasi senyum
Kadang.. pengen digenggam tangan doang..
kadang.. pengen dipuji..
kadang.. pengen dikasih surprise
kadang.. pengen dipeluk.. (wah.. bahasan peluk ini seru banget.. next post ya??)
kadang.. cuman pengen dy naro kepalanya di pangkuan saya
dan kadang.. pengen dikasi bunga deposito... ahahhahhahhhaha kidding
you know.. semua bentuk attention yg gak saya dapet dri dya..

nah itu.. saking saya pengen dan berharap macem-macem.. saya jadi nggak sadar.. bahwa ada bentuk perhatian yg keknya sepeleeeeee banget.. tapi ternyata..
pas bentuk perhatian itu ilang..
saya jadi bener2 kehilangan... :'C..

apakah itu?
sms.. yg isinya : "lagi apa?" atou "dah tidur?" "jaga kesehatan yaa?"

sepele kaan? tapi ya itu...I was stupid.. saya nggak sadar klo sebenernya dy merhatiin saya...

ahh.. manakalanya dy ga ada.. saya.. kesepian :((..
dan saya jadi kangen.. ;((

dan saya jadi addict sma lagu ineh ;))
- Pasto- Aku pasti kembali-

makanya..
kita harus bisa mensyukuri sgala bentuk perhatian orang lain sama kita.. syukur2 klo bisa ngebalesny dlm bentuk lebih..

jgn ampe kek sy.. ehhehhe :D



Minggu, Maret 08, 2009 at 19.20 , 2 Comments

Lagi pengen curhat..

Kehidupan saya sekarang, buat saya cukup membingungkan..
ibaratnya baru turun dari salah satu wahana 'serem' macam tornado dan kicir2 di Dufan..
adrenaline rush, seneng, tapi yang pasti mah... disoriented..

coba.. yg tadinya punya partner dan tempat share.. sekarang nggak
yg tadinya must 'ngurus' yg gede.. skrg tinggal 1 uruseun
yg tadinya klo jalan2 dan hengout saya pake 'kcamata kuda' sekarang,, ehehhehhehhe
mata saya jelalatan.. huahaahha..

tapi yang bikin deg2an adalah..
having a date..

gyahahhahhah..
lucu
waktu pertama having a date lagi...
cangguuuuuuuuuuuuuunng banget
(wajar lah.. dah lama bareng sama particular person)

kebiasaan2 lam susah ilang, contoh:
turun dari kendaraan, saya langsung nyelipin tangan di sikunya.
wah Sakadang dya langsung kaget...

"oops.. sori.. kebiasaan.. " sayah nyengir.. dy jalan 3 langkah depan sayah
wahhahhhah

Hmmm... gmna ya klo kebiasaan kiss*g saya kumat?

"oops.. sori.. ketempel" wahhahhahha

Intinya adl... asik juga, meeting new people, share new paradigmas.. brain storming...

Cuman what sucks adalah.. harus 'membiasakan' diri lagi..
orang baru.. kebiasaan bru
style,
fav food

ahh..
pokoknya jadi brasa abg lagih!! wiiihii

eh.. klo ada yg mau cerita ttg 'disaster date' boleh2.. ayo ceeritaaaaaa

ehehhhe

Btw, buat yg lagi nunggu2 cerita Rana and Rega.. sabar yaa,,,
lagi sibuk di ktr.. ehhehhe

-luv yaall-
=Rana-

Selasa, Maret 03, 2009 at 23.06 , 8 Comments

Lamunan tengah malam

Saya bingung,,
akhrir2 ini saya sibuuuuuuuuuuuk sekali di kantor..

saya bener2 kasian sama Dafa..
i hav no time for him..

diantara kerja-ngasi les-jadi housewife-nge blog-sama tidur

ahh,, sayang...

maafkan aku nak..

at 02.24 , 6 Comments

When we were back together

April 2008

Ia membelai pipku perlahan. Aku hanya tersenyum. Melirik matanya sebentar, berusaha tak berlama-lama mentapanya, agar ia tak tahu apa yang ada mengeram di hatiku.. Aku memalingkan wajahku, pura-pura sangat tertarik melihat acara yang sedang tayang di televisi.

“Rana, Sayang….” Katanya sambil membelai pipku dengan buku-buku telunjuknya. Aku tahu ia tersenyum dan menatapku penuh cinta. Aku memasang wajah ‘pura-pura cinta’ terbaikku. You know, senyum lembut, tatapan mata penuh kasih dan ‘mengundang’, lalu menundukkan kepalaku perlahan. Sebagian karena ingin terlihat sebagai istri penuh cinta yang malu-malu, dan sebagian lagi karena tak ingin topeng yang aku kenakan terlihat olehnya.

“Aku pergi dulu, Ya? Kamu ati-ati di rumah.. Jaga Dafa baik-baik.” Katanya sambil tersenyum, Ia lalu menangkup kedua pipiku dengan kedua tangannya. Aku berusaha berpaling. Tapi tangannya menahanku. Tak menyakitiku memang, namun tekannannnya cukup untuk membuat wajahku terpaku padanya. Ia lalu menatap kedua mataku dan tersenyum. Aku memaki dalam hati. Namun berusaha untuk terlihat seperti ‘istri baik dan pasrah’.

Ia lalu mengecupku. Aku memejamkan mataku. Untuknya, aku terlihat seperti benar-benar menikmati ciumannya. Untukku, adalah demi menutupi rasa muakku. Ia mulai menyelipkan lidahnya, aku sudah makin tak tahan. Tapi sedikit saja aku bereaksi, maka ia akan merasakannya. Aku mencoba untuk membendung rasa jengahku. Bagaimanakah caranya saudara-saudara? Yak, dengan membalas ciumannya. Juga sekalian melepaskan amarah dan tekanan. Hmmm.. ia tak akan pernah merasakan amarahku, karena yang ia rasakan adalah ‘how great my kisses are’. Sedetik, 2 detik, 3 detik, 5 detik, 7 detik., 10 detik, 15 detik. Ahh.. akhrirnya ia terengah melepaskanku. Ia memandangku lagi, dan memelukku erat. Tapi tanganku hanya bergantung lemas di kedua sisi tubuhnya.

“Ohhh.. aku pasti bakal kangen banget sama kamu, Sayang. Di Semarang nanti aku pasti bakal kesepiaann, kangen teruus”. Katanya. Aku memutar kedua bola mataku. Aku tak khawatir ia melihatku. Karena kepalaku berada di pundaknya.

“Kamu bakal kangen aku kan, Rana?” tanyanya sambil mendekapku.

“Act normal Rana!! Tahan!!” kataku dalam hati. Kembali aku pasang wajah manis..dengan suara selembut mungkin. Aku melingkarkan tanganku, memeluknya. Lalu berdehem


“Iya..” Jawabku lirih. Lalu aku melepaskan pelukannya. Tersenyum padanya sekilas.


“Nanti kamu ketinggalan kereta.” Kataku perlahan. Ia lalu tersenyum, dan meremas tanganku dengan penuh rasa sayang.

“Aku pergi dulu.” katanya. Aku mengantarnya sampai depan pintu rumah. I melambaikan tangannya dari kejauhan, dan meniupkan kecupn dari jauh. Aku hanya melambai sambil tersenyum.

Begitu ia hilang dari pandangan mata.. aku bergegas ke kamar mandi. Dengan tangan gemetar aku mengambil odol dan sikat gigi. Berkali-kali sikat gigi itu terlepas dari genggaman tanganku yang gemetar.. aku menyikat gigiku keras-keras, berkumur, menuangkan mouthwash dengan gemetar.. sehingga isinya tumpah sebagian, membasahi wastafel. semburat kebiruannya nampak sangat kontras dengan warna putih porselennya.


“OH Shit!!” makiku.. Aku berkumur2 lagi.. berusaha menghilangkan ‘rasa Rega’ dari mulutku.

berkumur sampai mulutku terasa sakit, terasa perih.. tubuhku gemetar menahan tangis. Saaat cairan biru itu mengalir dari tepian bibirku, akupun terduduk..


Dan aku pun menangis tersedu-sedu..

Rabu, Februari 25, 2009 at 20.29 , 7 Comments

The Story Continues

Febuari 2008

Sore hari, di sudut sebuah café. Aku mematut-matut diriku, sambil melihat bayangan ku yang terpantul di dinding seberang. Entah kenapa, hari ini aku sangat ingin terlihat sempurna. Dan ya, itulah bayangan yang kulihat terpantul di kaca, tegar, kuat dan siap menghadapi apapun. Aku tersenyum dengan penuh keyakinan. Lalu aku duduk menyilangkan kaki dengan anggun, dan membaca Sandra Brown terbaru ku.

“Rana..” Tiba-tiba aku dengar seseoang memangil namaku. Aku menahan napas, menghembuskan nya perlahan, dan mempersiapkan senyum terbaikku. Lalu aku mendongak dengan penuh percaya diri .

“Ya?” Kataku tenang. Lalu ku lihat wajahnya. Honestly, he look miserable. Seragam kantornya masih terlihat rapih, dan licin, namun tidak dengan wajahnya. Letih, mata berkantung dan nampak gurat-gurat kelelahan membayang di setiap senti wajahnya.

Ia lalu berusaha tersenyum, tapi yang tampak hanya ringisan terpaksa dan terlihat tak tulus.

“Duduk.” Kataku.

Ia lalu menarik kursi di hadapanku sambil menundukkan kepalanya.

“Gimana kabar kamu?” tanyaku. Ia lalu mendongakkan kepalanya dan menatapku cukup lama sebelum akhirnya menjawab.

“Keliatannya gimana?” Retoris.Bukan jawaban. Lalu ia menatapku dengan ‘tatapan terluka’ terbaiknya. Aku berusaha tak terlihat goyah sedikitpun.

“Dafa gimana?” Tanyanya lagi. Bukan retoris. Jadi harus ku jawab.

“ Baik..” jawabku pendek.

Tiba-tiba dia tampak sangat kesal, dan mengepalkan tangannya di atas meja.

“Please Rana. Jangan main2.. aku sangat tersiksa memikirkan kamu dan Dafa. Aku bingung Rana!! Aku sedih! Aku kesal! Aku benci semua ini! Aku.. Arrggh!!!” Ucapannya menyembur bagaikan keran air yang terbuka penuh. Ia kembali tertunduk.

Aku hanya menatapnya, berusaha tak terlihat terlalu dingin, khawatir amarahnya akan tersulut, dan ia lalu melakukan hal-hal diluar kehendakku.

Tiba-tiba ia mendongak kembali, kali ini dapat kulihat air mata membayang di pelupuk matanya. Ia lalu menatap kedua mataku.

“Aku nggak pengen kita pisah, Rana..Aku sangat mencintai kamu.” Kali ini dengan nada memelas, dan pandangan memelas pula.

Aku menghembuskan nafas keras, dan melipat kedua tanganku di depan dada.

“ Kamu tau sendiri, itu nggak mungkin..” jawabku sambil tersenyum sinis.

“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan perkawinan kita?” tanyanya. Keputusasaan mulai tersirat di suaranya. Aku tertawa pendek.

“Bertanggung jawab akan hal-hal yang kamu lakukan, mungkin?” kataku sambil memutar kedua bola mataku ke atas. Sebuah kalimat yang tadinya ditujukan untuk merendahkannya.

“Oke.” Jawabnya pendek. Aku sedikit terkejut, tapi sebisa mungkin menyembunyikan keterkejutanku. Ia menatapku tajam.

“Tunggu aku di rumahmu. Aku akan kesana saat Ibu dan Ayahmu ada di rumah.” Katanya.

----- **---------

Ia duduk di kursi pojok, menghadap Aku, Ayah Ibuku, dan teman kami, Gama. Ia tampak nelangsa.

“Saya.. minta maaf..” Katanya sambil menundukkan kepala.

“Saya khilaf, saya yang melakukan semua itu. Saya benar2 melakukannya. Dan saya benar-benar minta maaf.”

Ibu dan Ayahku nampak terkejut. Setengah tak percaya namun setengah lega tapi juga sedih. Lega karena ternyata memang ia pelaku semuanya, dan tak percaya bahwa ia akhirnya berani mengakuinya. Sedih? well karena tak percaya, ternyata ia begitu tega.

“Saya janji nggak akan ngulangin semuanya.”

---- **----------

Aku terdiam di kamarku. Ibu menghampiriku, dan duduk di sebelahku di atas tempat tidur. Beliau lalu menghembuskan nafas dengan keras.

“Aku bingung,Bu.” Kataku pendek, sambil menatap ke arah jendela. Berusaha mencari jawaban di luar sana. Aku bisa merasakan Ibu menatapku.

“Ibu juga bingung,Na. Tapi, dia kan sudah berniat baik, dan beritikad baik.”

“Tapi, Bu..” kataku sambil menatapnya. Ibu memejamkan mata dan mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapanku. Kata-kata tertahan di mulutku. Namun aku hanya bisa menghembuskan nafas kesal.

“Tuhan juga Maha Pemaaf, Na. Masa kamu nggak bisa ngasih dia kesempatan? Siapa tau sekarang dia berubah. Selama ini memeng kamu nggak pernah konfrontasi sebelumnya kan?”

Aku hanya diam. Melipat kedua tanganku di depan dada dan kembali menatap ke luar jendela.

“Aku.. sebenernya udah males, Bu.. I don’t love him anymore..” Kataku sambil mengusap wajah dengan tanganku.

“Rana, saran Ibu, berilah ia kesempatan sampai kamu beres kuliah. Toh dengan begini kamu lebih konsentrasi dengan skripsi kamu. Dan begitu selesai, kamu bisa pergi ke mana pun yang kamu mau.”

Aku menatap wajah Ibuku, ia terlihat sangat letih akan semua ini, dan ingin semua segera berakhir. Sama denganku. Namun logikanya lebih unggul dibandingkan perasaannya. Satu hal yang paling aku kagumi darinya. Ahh Ibu…

“Baiklah.”

(To be continued..)

Sabtu, Februari 21, 2009 at 19.54 , 5 Comments