Tampilkan postingan dengan label stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stories. Tampilkan semua postingan

Paranoid

In the middle of my trying-to-forgive...
Suddenly Rega called, after months not hearing from him.

"I'm at Dafa's school. I want to take him out. it's my day off today." He said.
I was surprised. If I could, I wanted to scream at his face.. told him to get his friggin' as* away from our-perfect-already life.

But I couldn't.

There are Ex-wives, and ex husbands.. but there are no such thing as ex-children..
I have no right to keep him away from his own Son, have I?
... but still.. I'm so damn worried. and afraid. and .. ahhhhhh.. speechless.

maybe I was being jealous. and hurt.

Jealous, because after his presence.. I won't be his center of the universe again..

Hurt, and angry. Wondering here had he been all these months?
where was he when Daffa needs attention?
was he even care to call?
Was he even dare to show up at all?

ah. damn.
I'm counting minutes now..
hoping hours will go by quickly..
and when I count to ten, Daffa will be in my arms again..

mmh. i just realized that i was so afraid.
Afraid that Rega will take away Daffa from me.
I know that it's almost impossible.
For He has to face my whole big family, if he wants to take Daffa away.
Oh, correction.. no need to involve the big family.
Me alone will make his life like living hell ....
..



aahh..
Oh dear God.. Please take care of Daffa..

Jumat, Februari 12, 2010 at 11.01 , 3 Comments

When Dafa's ill

I looked at the sight of Dafa, while sitting next to him. He closed his eyes peacefully. On the outside, it looked as if he’s fine, but when I hold him, a burst of heat stung my palm. Yes. He was having a temperature. I caressed his hair, trying to untangle the ends. Suddenly he opened his eyes, and said,

“Water.” His voice were gruff. I handed him water bottles and its straw. He woke up trembling, then I helped him up. I have to bit my lower lip, to resist the urge to cry. He drank slowly with his quivering lips. His lips were gone bright red from his fever. He’s looking quite handsome, actually. With his fair skin, handsome face and red lips. The thought of this made me smile a bit. But the smirk suddenly gone, and left my edge of lips twitching. He looked at me slowly, and gave me a weak smile.

“Go back to sleep, Champ.” I told him while caressing his hair slowly. He nodded and laid his head on the pillow. I tucked him inside his blanket. As he drifted away in sleep, I sighed. I wanted to cry, but then there were no tears that would drop from my eyes. That day was the second day of his fever. A pain stung my head. I closed my eyes and breathed deeply, the pain grew weaker a little, but its left minor throb on the corner of my head. Suddenly, I felt tired.

Physically tired, yes. and also tiresome of being lonely. I needed someone to laid my head on the shoulder and cry. I couldn’t risk Dafa seeing me cry. I had once cried in front of him, few weeks after the divorce, and ended up making him sad and crying. I then promised to myself never to cry in front of him again.

I took a deep breath, realizing that everything had been consequences of my choice. I had to accept it, and go with the flow. I then had myself lost in my thoughts. Dafa stirred from his sleep, and shifted me from things that ran in my head.

“Mom..” he said slowly.

“Yes? What is it, Darling? Do you feel hurt?” I asked him. and hold his head carefully with both of my hands.

“No.” He said. He was sleeping against me, and faced the wall, so I couldn’t see his face. “Is Dad going to see me?” He continued. I gasped, but frantically tried to hide it.

“Ummm.. I think he’s busy, Dear.” I then answered, desperately trying to sound normal, and not depressed.

“Oh.” He sighed.

“Now go back to sleep. You wouldn’t want to miss school again, would you?” I said cheerfully.

“Em..hmm.” he hummed. And there were long silence. I took another deep breath.. then I said something in my mind:

"I’m Sorry, Dafa. Daddy doesn’t even care if you are sick. He never called you, not giving you any tuition, not even single penny of allowance he’d sent to us."

I didn’t even cry at this thought. His Dad doesn’t worth my tears anyway.

Kamis, September 03, 2009 at 21.04 , 6 Comments

When we were back together

April 2008

Ia membelai pipku perlahan. Aku hanya tersenyum. Melirik matanya sebentar, berusaha tak berlama-lama mentapanya, agar ia tak tahu apa yang ada mengeram di hatiku.. Aku memalingkan wajahku, pura-pura sangat tertarik melihat acara yang sedang tayang di televisi.

“Rana, Sayang….” Katanya sambil membelai pipku dengan buku-buku telunjuknya. Aku tahu ia tersenyum dan menatapku penuh cinta. Aku memasang wajah ‘pura-pura cinta’ terbaikku. You know, senyum lembut, tatapan mata penuh kasih dan ‘mengundang’, lalu menundukkan kepalaku perlahan. Sebagian karena ingin terlihat sebagai istri penuh cinta yang malu-malu, dan sebagian lagi karena tak ingin topeng yang aku kenakan terlihat olehnya.

“Aku pergi dulu, Ya? Kamu ati-ati di rumah.. Jaga Dafa baik-baik.” Katanya sambil tersenyum, Ia lalu menangkup kedua pipiku dengan kedua tangannya. Aku berusaha berpaling. Tapi tangannya menahanku. Tak menyakitiku memang, namun tekannannnya cukup untuk membuat wajahku terpaku padanya. Ia lalu menatap kedua mataku dan tersenyum. Aku memaki dalam hati. Namun berusaha untuk terlihat seperti ‘istri baik dan pasrah’.

Ia lalu mengecupku. Aku memejamkan mataku. Untuknya, aku terlihat seperti benar-benar menikmati ciumannya. Untukku, adalah demi menutupi rasa muakku. Ia mulai menyelipkan lidahnya, aku sudah makin tak tahan. Tapi sedikit saja aku bereaksi, maka ia akan merasakannya. Aku mencoba untuk membendung rasa jengahku. Bagaimanakah caranya saudara-saudara? Yak, dengan membalas ciumannya. Juga sekalian melepaskan amarah dan tekanan. Hmmm.. ia tak akan pernah merasakan amarahku, karena yang ia rasakan adalah ‘how great my kisses are’. Sedetik, 2 detik, 3 detik, 5 detik, 7 detik., 10 detik, 15 detik. Ahh.. akhrirnya ia terengah melepaskanku. Ia memandangku lagi, dan memelukku erat. Tapi tanganku hanya bergantung lemas di kedua sisi tubuhnya.

“Ohhh.. aku pasti bakal kangen banget sama kamu, Sayang. Di Semarang nanti aku pasti bakal kesepiaann, kangen teruus”. Katanya. Aku memutar kedua bola mataku. Aku tak khawatir ia melihatku. Karena kepalaku berada di pundaknya.

“Kamu bakal kangen aku kan, Rana?” tanyanya sambil mendekapku.

“Act normal Rana!! Tahan!!” kataku dalam hati. Kembali aku pasang wajah manis..dengan suara selembut mungkin. Aku melingkarkan tanganku, memeluknya. Lalu berdehem


“Iya..” Jawabku lirih. Lalu aku melepaskan pelukannya. Tersenyum padanya sekilas.


“Nanti kamu ketinggalan kereta.” Kataku perlahan. Ia lalu tersenyum, dan meremas tanganku dengan penuh rasa sayang.

“Aku pergi dulu.” katanya. Aku mengantarnya sampai depan pintu rumah. I melambaikan tangannya dari kejauhan, dan meniupkan kecupn dari jauh. Aku hanya melambai sambil tersenyum.

Begitu ia hilang dari pandangan mata.. aku bergegas ke kamar mandi. Dengan tangan gemetar aku mengambil odol dan sikat gigi. Berkali-kali sikat gigi itu terlepas dari genggaman tanganku yang gemetar.. aku menyikat gigiku keras-keras, berkumur, menuangkan mouthwash dengan gemetar.. sehingga isinya tumpah sebagian, membasahi wastafel. semburat kebiruannya nampak sangat kontras dengan warna putih porselennya.


“OH Shit!!” makiku.. Aku berkumur2 lagi.. berusaha menghilangkan ‘rasa Rega’ dari mulutku.

berkumur sampai mulutku terasa sakit, terasa perih.. tubuhku gemetar menahan tangis. Saaat cairan biru itu mengalir dari tepian bibirku, akupun terduduk..


Dan aku pun menangis tersedu-sedu..

Rabu, Februari 25, 2009 at 20.29 , 7 Comments

The Story Continues

Febuari 2008

Sore hari, di sudut sebuah café. Aku mematut-matut diriku, sambil melihat bayangan ku yang terpantul di dinding seberang. Entah kenapa, hari ini aku sangat ingin terlihat sempurna. Dan ya, itulah bayangan yang kulihat terpantul di kaca, tegar, kuat dan siap menghadapi apapun. Aku tersenyum dengan penuh keyakinan. Lalu aku duduk menyilangkan kaki dengan anggun, dan membaca Sandra Brown terbaru ku.

“Rana..” Tiba-tiba aku dengar seseoang memangil namaku. Aku menahan napas, menghembuskan nya perlahan, dan mempersiapkan senyum terbaikku. Lalu aku mendongak dengan penuh percaya diri .

“Ya?” Kataku tenang. Lalu ku lihat wajahnya. Honestly, he look miserable. Seragam kantornya masih terlihat rapih, dan licin, namun tidak dengan wajahnya. Letih, mata berkantung dan nampak gurat-gurat kelelahan membayang di setiap senti wajahnya.

Ia lalu berusaha tersenyum, tapi yang tampak hanya ringisan terpaksa dan terlihat tak tulus.

“Duduk.” Kataku.

Ia lalu menarik kursi di hadapanku sambil menundukkan kepalanya.

“Gimana kabar kamu?” tanyaku. Ia lalu mendongakkan kepalanya dan menatapku cukup lama sebelum akhirnya menjawab.

“Keliatannya gimana?” Retoris.Bukan jawaban. Lalu ia menatapku dengan ‘tatapan terluka’ terbaiknya. Aku berusaha tak terlihat goyah sedikitpun.

“Dafa gimana?” Tanyanya lagi. Bukan retoris. Jadi harus ku jawab.

“ Baik..” jawabku pendek.

Tiba-tiba dia tampak sangat kesal, dan mengepalkan tangannya di atas meja.

“Please Rana. Jangan main2.. aku sangat tersiksa memikirkan kamu dan Dafa. Aku bingung Rana!! Aku sedih! Aku kesal! Aku benci semua ini! Aku.. Arrggh!!!” Ucapannya menyembur bagaikan keran air yang terbuka penuh. Ia kembali tertunduk.

Aku hanya menatapnya, berusaha tak terlihat terlalu dingin, khawatir amarahnya akan tersulut, dan ia lalu melakukan hal-hal diluar kehendakku.

Tiba-tiba ia mendongak kembali, kali ini dapat kulihat air mata membayang di pelupuk matanya. Ia lalu menatap kedua mataku.

“Aku nggak pengen kita pisah, Rana..Aku sangat mencintai kamu.” Kali ini dengan nada memelas, dan pandangan memelas pula.

Aku menghembuskan nafas keras, dan melipat kedua tanganku di depan dada.

“ Kamu tau sendiri, itu nggak mungkin..” jawabku sambil tersenyum sinis.

“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan perkawinan kita?” tanyanya. Keputusasaan mulai tersirat di suaranya. Aku tertawa pendek.

“Bertanggung jawab akan hal-hal yang kamu lakukan, mungkin?” kataku sambil memutar kedua bola mataku ke atas. Sebuah kalimat yang tadinya ditujukan untuk merendahkannya.

“Oke.” Jawabnya pendek. Aku sedikit terkejut, tapi sebisa mungkin menyembunyikan keterkejutanku. Ia menatapku tajam.

“Tunggu aku di rumahmu. Aku akan kesana saat Ibu dan Ayahmu ada di rumah.” Katanya.

----- **---------

Ia duduk di kursi pojok, menghadap Aku, Ayah Ibuku, dan teman kami, Gama. Ia tampak nelangsa.

“Saya.. minta maaf..” Katanya sambil menundukkan kepala.

“Saya khilaf, saya yang melakukan semua itu. Saya benar2 melakukannya. Dan saya benar-benar minta maaf.”

Ibu dan Ayahku nampak terkejut. Setengah tak percaya namun setengah lega tapi juga sedih. Lega karena ternyata memang ia pelaku semuanya, dan tak percaya bahwa ia akhirnya berani mengakuinya. Sedih? well karena tak percaya, ternyata ia begitu tega.

“Saya janji nggak akan ngulangin semuanya.”

---- **----------

Aku terdiam di kamarku. Ibu menghampiriku, dan duduk di sebelahku di atas tempat tidur. Beliau lalu menghembuskan nafas dengan keras.

“Aku bingung,Bu.” Kataku pendek, sambil menatap ke arah jendela. Berusaha mencari jawaban di luar sana. Aku bisa merasakan Ibu menatapku.

“Ibu juga bingung,Na. Tapi, dia kan sudah berniat baik, dan beritikad baik.”

“Tapi, Bu..” kataku sambil menatapnya. Ibu memejamkan mata dan mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapanku. Kata-kata tertahan di mulutku. Namun aku hanya bisa menghembuskan nafas kesal.

“Tuhan juga Maha Pemaaf, Na. Masa kamu nggak bisa ngasih dia kesempatan? Siapa tau sekarang dia berubah. Selama ini memeng kamu nggak pernah konfrontasi sebelumnya kan?”

Aku hanya diam. Melipat kedua tanganku di depan dada dan kembali menatap ke luar jendela.

“Aku.. sebenernya udah males, Bu.. I don’t love him anymore..” Kataku sambil mengusap wajah dengan tanganku.

“Rana, saran Ibu, berilah ia kesempatan sampai kamu beres kuliah. Toh dengan begini kamu lebih konsentrasi dengan skripsi kamu. Dan begitu selesai, kamu bisa pergi ke mana pun yang kamu mau.”

Aku menatap wajah Ibuku, ia terlihat sangat letih akan semua ini, dan ingin semua segera berakhir. Sama denganku. Namun logikanya lebih unggul dibandingkan perasaannya. Satu hal yang paling aku kagumi darinya. Ahh Ibu…

“Baiklah.”

(To be continued..)

Sabtu, Februari 21, 2009 at 19.54 , 5 Comments

The beginning

JANUARI 2008

Aku menatatapnya perlahan. Kulihat Ia sedang tersenyum memandangi anak kami yang sedang bermain perosotan di ujung taman. Aku lalu mentutup kedua mataku. Setengah mati berusaha mengumpulkan keberanianku. Ku rasakan kedua telapak tanganku mulai lembab. Deburan jantungku berkejaran. Pelipisku mulai bedenyut, mengirimkan suara bertalu-talu ke telingaku. Tenggorokanku terasa tercekat. Tapi, aku lalu menguatkan diri, dan menyentuh pelan lengannya. Ahh, semoga saja ia tak merasakan tanganku yang gemetar. Ia lalu menolehkan kepalanya ke arahku. Aku menarik nafas perlahan.

“Aku, mau pisah.” Kataku, menatap langsung kedua matanya. Sesuatu yang selama ini selalu aku hindari. Ia tampak terkejut, namun lalu ada tawa membayang di kedua matanya. Ia pun tersenyum.

“Ga usah bercanda deh..” katanya sambil tersenyum, dan berusaha mencubit hidungku. Sesuatu yg sering ia lakukan manakala merasa gemas padaku. Aku menepis tangannya dan berkata dengan nada rendah.

“Aku serius,Ga.” Jawabku tegas. Tangan yg sedapatnya akan mencubit hidungku itu terhenti di udara. Bayang tawa di kedua matanya menghilang. Sekarang yang tersisa hanya kebingungan, dan rasa terkejut yang tak terkira. Ia mengerutkan dahinya, pertanda sedang berpikir keras.

“Kenapa?” tanyanya. Ia memajukan badannya ke arahku. Ia menatap kedua mataku. Berusaha mencari jawaban disana. Aku sebisa mungkin berusaha menahan bulir airmata yang mulai terkumpul id kedua pelupuk mataku. Ahh, aku beruntung ada meja di antra kami berdua, karena apabila tak ada meja itu mungkin aku tak akan punya keberanian untuk mengatakan ini semua, karena ia akan langsung merengkuhku dalam pelukannya, dan membuatku terlena.

Aku memejamkan kedua mataku, dan berusaha untuk memfokuskan pikiranku.

“Aku udah tau semua, Rega. “ Jawabku. Ia nampak kebingungan.

“Ahh, nggak usah pura-pura, Ga.” Lanjutku aku lalu memandang kedua matanya dan tersenyum sinis.

“Kamu kan, penyebab hilangnya barang2 berharga di rumah?” sesaat, ia nampak terperanjat, matanya terbelalak, dan punggungnya Nampak menegang. Tapi hanya sesaat. Hanya beberapa milidetik. Namun itu semua tak pernah luput dari pandanganku. Tiba-tiba ia terlihat marah. Sangat marah. Ahh, sesuatu yang telah kupelajari dari sifatnya selama bertahun-tahun adalah: dia akan menutupi rasa bersalahnya dengan amarah dan itu adalah fase pertama.

“Kamu nuduh aku?” tanyanya ketus. Namun masih dengan nada rendah. Ia melipat kedua tangannya di depn dadanya. Ia menatapku tajam. Sangat tajam. Hal ini lah yang biasanya mengintimidasi aku agar mengikuti segala kemauannya. Aku tak suka perang mulut. Oh.. I’ve been weak and stupid for this whole 4 years.

“Nggak usah bohong,Ga. Aku tau. Selama ini kmu pikir Aku nggak tau, apa?” aku berusaha terdengar setegas mungkin, namun aku tahu, suaraku mulai bergetar. Ia nampak terkesima. Nampak ada sinar kepanikan di kedua matanya. Ia tak pernah menyangka, aku akan berkata seperti ini. Biasanya aku akan mengiyakan kata-katanya, dan memendam rasa kecewaku.

“Aku beneran nggak ngelakuin itu semua, Na. Sumpah, masa kamu nggak percaya sama aku?” kini pungungnya mulai melemas, namun aku masih melihat ada sinar panic membayang di wajahnya. Fase kedua , Saudara-saudara. Bila amarah tak mempan, berbohonglah untuk menutupi kebohongan.

Aku hanya diam. Menatapnya tajam, tanpa mengucapkn sepatah katapun. Nampak tetesan keringat timbul di atas bibirnya.

“Astagfirullah.Bener, Na. Aku sumpah. Sumpah Demi Allah. Aku gak ngelakuin itu semua. Masa kamu nggak percaya sama aku? Matanya terlihat memohon.

Bulir-bulir keraguan mulai membayang di dadaku. Aku bimbang, “Am I doing the right thing?” tanyaku dalam hati. Namun tiba-tiba aku teringat. Fase ketiga. Menggunakan segala cara termasuk nama Tuhan, untuk meyakinkan aku. Sejenak kenyataan ini membangkitkan kembali rasa percaya diriku. Aku hanya menatapnya. Menggelengkan kepalaku perlahan dan tersenyum sinis.

Pathetic.

Kini aku bisa melihat aura panik itu berubah menjadi aura ketakutan. Ia lalu menggenggam tanganku, yang berusaha ku tarik, namun tertahan oleh kekuatannya. Aku meliriknya tajam. Namun ia tampak enggan melepas tanganku.

“Ayo lah, Rana. Mana mungkin aku melakukan itu semua? Percaya deh sama aku. Lagipula, kalau kita pisah, kamu nggak kasian sama Dafa? ” Kembali rasa ragu itu mengisi tepian hatiku. Aku memandang Dafa yang masih asyik bermain. Dafa melambaikan tangannya pada kami sambil tersenyum bahagia. Poor kid. He doesn’t know, pernikahan orang tuanya di ujung tanduk.

Tiba-tiba sesuatu menyadarkan aku. Fase ke-empat, bualan tak mempan, ganti dengan fakta dan logika. Damn, such a predictable liar.

Tiba-tiba aku merasa lelah dengan perang emosional ini. Aku menarik paksa tanganku, dan mengusap wajahku perlahan, berusaha menutupi bulir-bulir yang mulai mengalir di pipiku.

“Terserah kamu mau ngomong apa. Aku capek!!”

Dan aku pun pergi meninggalkannya
.

Selasa, Februari 10, 2009 at 12.55 , 6 Comments